Bagi Anda yang tidak ingin direpotkan oleh urusan atur mengatur kecepatan, Anda dapat memanfaatkan kecepatan otomatis yang ditawarkan oleh komputer Anda, lewat BIOS-nya. Namun jika ingin melakukan sendiri pengaturan kecepatan ini, Anda juga dapat melakukannya melalui BIOS.
Caranya tidak sulit, hanya saja perhatikan baik-baik RAM yang Anda gunakan. Jika Anda memasang satu RAM atau dua RAM yang sama, maka pada bagian RAM dalam BIOS. Anda dapat menentukan pengaturan Memory Timingsnya pada pilihan by SPD.
Sedangkan jika RAM yang digunakan tidak sama, maka ikutilah ketentuan dari keping RAM yang paling lambat. Jika Anda melakukan sebaliknya (mengatur dengan keping RAM yang paling cepat), maka komputer Anda akan berjalan dengan tidak stabil.
Apa saja yang dapat ditentukan dalam BIOS, lihat saja tabelnya. Perlu diingat bahwa masing-masing RAM memiliki kemampuan maksimal masing-masing. Jangan terlalu memaksakan untuk meng-overclock RAM di luar kemampuannya. Sebab jika hal ini dipaksakan, akan kurang baik hasilnya pada kesehatan komputer Anda sendiri nantinya.
Biasanya keterangan ini tersedia pada boks memory yang Anda beri. Misalnya pada boks tersebut akan muncul angka seperti berikut: 2-3-3-7-1T. Maka ini artinya, 2 untuk nilai CAS Latency, 3 untuk nilai penundaan RAS ke CAS (tRCD = timing RAS-CAS Delay), 3 nilai RAS yang akan diisi kembali (tRP = timing RAS Precharge), 7 Aktivasi untuk pengisian RAS kembali (tRAS = timing RAS), lalu 1T nilai command rate.
Sedangkan caranya masuk ke dalam BIOS harus dilakukan pada saat awal-awal Anda menyalakan komputer, sebelum layar operating system berjalan, tekanlah tombol F2. Maka Anda akan masuk ke dalam BIOS komputer.
Sedangkan dalam setiap keping RAM, kapasitor-kapasitor tersebut disusun ke dalam bentuk wafer (bayangkan saja biskuit wafer yang biasa Anda makan). Yang setiap baris disebut wordlines dan setiap kolomnya disebut bitlines. Persimpangan antara baris dan kolomnya merupakan alamat dari sel memory itu sendiri. DRAM bekerja dengan mengirimkan tegangan pertama melalui kolom-kolom untuk mengkatifkan kapasitor-kapasitor yang ada pada setiap kolom. Lalu pada saat penulisan, pada baris akan dapat diketahui berapa nilai elektron yang hasrus dimiliki oleh kapasitor-kapasitor tersebut.
Sedangkan pada saat proses pembacaan terjadi, maka sebuah sensor akan membaca nilai tegangan yang ada pada masing-masing kapasitor. Jika pada kapasitor masih terdapat lebih dari 50% tegangan, maka kapasitor akan dianggap memegang nilai satu. Sedangkan jika tegangannya turun kurang dari 50%, maka akan dianggap kapasitor memegang nilai nol.